Home MotoGP Dominasi Marquez dan Honda di Mata Valentino Rossi

    Dominasi Marquez dan Honda di Mata Valentino Rossi

    SHARE

    Valentino Rossi, Misano Race
    MESINBALAP.com – Marc Marquez benar-benar mendominasi kelas premier MotoGP sepanjang musim ini bersama Honda, tepat di tahun keduanya.

    Sukses merebut 11 kemenangan di musim ini, Marquez hanya menyisakan 7 seri untuk rival-rivalnya – satu seri sudah diamankan Pedrosa di Brno dan satu seri lagi disikat Rossi di Misano kemarin.

    Otomatis kini masih tersisa 5 seri yang belum dimenangi siapaun, termasuk Aragon, Motegi, Phillip Island, Sepang dan Valencia.

    Banyak yang berpendapat bahwa situasi musim ini mirip seperti saat Valentino Rossi masih bersama Honda pada tahun 2003 yang lalu, dimana Yamaha paceklik kemenangan dalam satu musim.

    Lantas apa pendapat Rossi soal situasi ini?

    Marquez vs Rossi, Misano

    “Honda sangat kuat, itu Oke. Saat ini mungkin motor terbaik. Tapi dalam hal apapun, Marc tampil lebih baik dan tahun lalu dia membuat semuanya tampak berbeda, sama seperti yang aku lakukan saat di Honda”, ujar Rossi kepada Speedweek.

    Kala itu orang-orang termasuk jurnalis MotoGP banyak yang menganggap jika Rossi menang hanya karena faktor motor Honda, bukan karena skillnya.

    Sedangkan saat ini anggapan orang-orang terhadap Marquez sudah berbeda dibandingkan dengan jaman Rossi saat masih bersama Honda.

    “Honda punya motor terbaik saat itu tapi Gibernau, Biaggi, Hayden dan Ukawa juga menggunakan motor Honda. Tapi kami tidak tahu apakah aku menang hanya karena aku menggunakan Honda”, tambahnya.

    Valentino Rossi, Sete Gibernau, MotoGP Valencia 2003

    Memang saat itu teknologi MotoGP antar pabrikan belumlah merata seperti saat ini. Honda punya dana lebih gede dan waktu riset lebih lama dengan dukungan insinyur top, sedangkan pabrikan lainnya hanya jadi penggembira.

    Setelah meraih tiga kali juara dunia bersama Honda (Nastro Azzurro, Repsol), Rossi akhirnya memutuskan hengkang ke Yamaha lantaran menurutnya perlakukan Honda terhadap dirinya kurang begitu bijak kala itu.

    “Jadi aku memutuskan pergi ke Yamaha dan aku mampu membuktikan bahwa aku menang karena akulah yang terkuat (bukan motor)”, tutupnya sambil mengenang masa lalu.

    KOMENTAR